Mana Lebih Dulu, Tumbuh Gigi, Bicara Atau Jalan ?

maia-ngences

Jalan, tumbuh gigi, dan bicara, punya masa perkembangan tersendiri meski kadang berjalan bersamaan. Sering orang tua beranggapan, anak harus jalan dulu baru bisa bicara. Atau jika giginya muncul duluan, berarti kemampuan berjalannya muncul belakangan. Yang mana, sih, yang benar ?, “Ah, semua itu cuma mitos. Mungkin karena kebetulan saja giginya tumbuh lebih awal, baru bisa jalan” kata Drg. Rachmatiah B, dari RS Gatot Subroto Jakarta. Hal senada diungkapkan dr. Waldi Nurhamzah, SpA dari FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. “Semua itu harusnya dikembalikan pada konsep perkembangan yang dilalui anak”.

Pada anak, tonggak-tonggak perkembangan yang penting terbagi dalam beberapa bagian besar. Antara lain perkembangan bahasa, psikososial, dan motorik. Perkembangan motorik dibagi lagi menjadi motorik kasar dan halus. “Kelihatan kan, bahasa dan berjalan merupakan perkembangan yang terpisah, bukan dalam satu kelompok” kata Waldi.

Berjalan masuk perkembangan motorik kasar, seperti halnya perkembangan berdiri, tegak dan melangkah. Jadi, kalau dibuat suatu garis perkembangan, masing-masing kelompok punya rentang waktu perkembangan sendiri-sendiri. Karena itulah tak bisa disimpulkan, jika kemampuan bicara muncul lebih dulu, maka berjalannya belakangan atau sebaliknya. “Bisa saja keduanya berlangsung berdekatan. Jadi, nggak bisa dikatakan, mana yang lebih dulu, jalan atau bicara karena memang keduanya tidak bisa diperbandingkan”.

Masing-masing berasal dari garis perkembangan berbeda dan punya tenggang waktu sendiri-sendiri, yaitu kapan paling cepat dan kapan paling lambat. Misal dalam hal bersuara riang, ada bayi yang di usia 1 bulan sudah dapat melakukannya. Padahal, biasanya baru pada umur 7 minggu bayi bisa melakukannya. Contoh lain, meraih barang rata-rata bisa dilakukan pada usia 5 bulan.

Lewat Waktu, Berarti Ada Masalah

Yang jelas, dalam setiap tonggak perkembangan terdapat perubahan fungsi-fungsi otak. Yang tadinya belum bisa dilakukan oleh seorang anak, kini bisa. Itulah yang membedakan apakah suatu perkembangan dianggap sebagai tonggak atau bukan.

Menurut Waldi, berjalan dan bicara termasuk bagian dari tonggak perkembangan. Tak demikian halnya dengan tumbuh gigi. Cepat-lambatnya kemunculan gigi susu, tidak bisa dijadikan pedoman utama dalam melihat perkembangan anak. Hanya saja umumnya peristiwa kemunculan gigi sering dijadikan taksiran kasar usia anak. Misalnya, untuk anak usia 1 tahun, jumlah minimal giginya 2 buah.

Bagi orang tua dan juga terutama dokter, yang penting diketahui adalah batas akhir dari setiap perkembangan. Kalau lewat dari tenggang waktu yang dianggap normal dan anak belum bisa berjalan atau bicara, berarti ada masalah. “Makanya proses perkembangan ini harus dipantau oleh dokter dan juga orang tua sejak awal. Tanyakan selalu perkembangan anak kepada dokter atau petugas kesehatan yang berwenang. Saat ke klinik, jangan hanya untuk imunisasi dan mengukur BB serta TB saja, tapi juga tahap perkembangannya,” saran Waldi.

Meski berjalan dan bicara bukan dalam satu kelompok yang sama, tapi dalam hal stimulasi, keduanya harus terus berjalan bersama sesuai dengan tahapan masing-masing. Jika stimulasi dilakukan satu per satu, misalnya anak tak diajari bahasa dan hanya motorik, “Mungkin nantinya dia terlambat bicara”. Seorang anak dikatakan mengalami keterlambatan bila dia belum mencapai suatu kemampuan tertentu pada batas akhir dari range yang ditentukan. Untuk keterlambatan bicara, bisa diketahui dari keterlambatan menyusun kata yang bermula dari keterlambatan menguasai kata dan sebelumnya dari keterlambatan mengeluarkan suara. Harusnya, di usia 12 bulan, rata-rata bayi sudah bisa mengucapkan 5-10 kata. Stimulasi berbahasa ini sendiri sudah bisa dilakukan sejak janin mampu mendengar.

Itulah, kata Waldi, pentingnya orang tua memahami range atau tenggang waktu dari tiap perkembangan sehingga stimulasi bisa dilakukan di waktu yang sesuai. Misalnya, tahu kapan anak bisa berdiri dan berjalan. Sebab, kalau dilakukan sebelum waktunya akan sia-sia saja. Contohnya, usia berjalan memiliki range sekitar usia 9-15 bulan. Jika bayi dilatih sejak usia 2 bulan, maka mustahil membawa hasil. Bisa-bisa pertumbuhan kakinya malah terganggu.

Baby Walker & Jinjit

Masih soal perkembangan berjalan, anak tak selalu harus mengalami proses merangkak sebelum bisa jalan. Sebab kata Waldi, merangkak bukan merupakan salah satu tonggak perkembangan seperti halnya tengkurap, duduk, berdiri, dan berjalan. “Bisa saja bayi yang sudah masuk tahap duduk, langsung masuk ke tahap berdiri. Merangkak itu pun tak perlu dilatih karena kemampuan ini berkembang dari sikap telungkup dan gerakan keempat anggota tubuhnya (lengan dan tungkai) untuk bisa membuat langkah terkordinasi”.

Saat masuk usia berjalan, orang tua lebih disarankan menatih anak dibanding menggunakan baby walker. Alat ini hanya membuat orang tua malas. Untuk anak pun, tidak terlalu baik. Di baby walker, bayi mengayuh atau melangkahkan kakinya sehingga tak bisa diramalkan, kapan bayi betul-betul bisa mengayuhkan kakinya dengan kecepatan lambat atau cepat. Padahal, di rentang usia berjalan dari 9-15 bulan itu, tak mungkin kita mengawasinya setiap saat. Lalai beberapa detik saja, mungkin ia sudah “lari” dengan baby walkernya lalu menabrak sesuatu dan terbalik. Kemungkinan terjadinya trauma atau kecelakaan sangat besar. “Boleh saja pakai baby walker, tapi orang tua harus tetap ada di samping anak sambil memegangi keretanya. Memang lebih sulit dibanding menatih”.

Selain itu, dengan baby walker anak jadi tidak menggunakan otot panggulnya secara optimal, karena dia hanya mengayuh sambil duduk. Sementara untuk berjalan, diperlukan keseimbangan otot-otot panggul. “Jadi, menatih lebih baik untuk melatih anak berjalan”. Caranya, bisa dengan menggunakan selendang yang diikatkan seperti ransel di badannya agar orang tua bisa mengendalikan gerakan anak. Bisa juga dengan memegang bagian bawah ketiaknya. Lalu lihat perkembangannya. Jika anak semakin mampu, pegang lengan atasnya, kemudian lengan bawah, dan tangannya, sampai kemudian bisa dilepas sendiri. Tak ada patokan harus berapa lama menatih anak. Orang tua harus memperhatikan sendiri pola perkembangan anaknya dari hari ke hari.

Hal penting lainnya, orang tua harus curiga jika di usia belajar jalan, si anak ternyata masih jinjit. Seharusnya di usia 9 bulan, jinjit sudah menghilang. Kemungkinan, ada gangguan di fungsi otaknya. Sementara otaklah yang mengatur kemampuan motorik otot kaki agar seimbang.

Serba Serbi Pertumbuhan Gigi

Pertumbuhan gigi tak bisa dirangsang dengan obat-obatan. Apalagi jika memang tidak ada benihnya. Sementara pada anak usia ini sangat tidak dianjurkan menggunakan sinar X untuk mengetahui ada tidaknya benih itu. “Lebih baik tunggu gigi muncul sampai usia berapapun,” saran Waldi.

Normalnya, gigi bayi mulai tumbuh di usia 6-7 bulan, yaitu 2 buah gigi depan bawah. Beberapa bulan kemudian, 2 buah gigi depan atas. Setelah itu gigi bawah di sebelahnya, kemudian bagian belakang. Sampai usia 1 tahun, jumlah gigi bervariasi pada setiap bayi. Mungkin ada yang 4 buah atau 8 buah. “Tergantung pada pola tumbuh gigi, faktor keturunan, serta gizi,” jelas Rachmatiah. Sampai usia 2 tahun, biasanya gigi anak sudah komplet sebanyak 20 buah, yaitu 10 di atas dan 10 di bawah.

Tumbuhnya gigi dipengaruhi pula oleh faktor keturunan. Mungkin salah satu orang tuanya punya sifat resesif atau tidak dominan dalam hal pola tumbuh gigi yang lambat sehingga dalam satu keluarga, mungkin saja satu anak memiliki pertumbuhan gigi yang normal dan anak lainnya terlambat.

Sebetulnya, pembentukan gigi bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu di usia kehamilan 6 minggu, berupa benih gigi. Bila orang tua ingin gigi susu anaknya bagus, sewaktu hamil gizi ibu harus bagus. Ini bisa didapat dari sumber makanan seperti susu, sayuran dan buah. Setelah bayi lahir, gizi yang masuk tak berpengaruh lagi pada pertumbuhan gigi susunya karena sudah terbentuk. Namun, gizi pasca lahir ini akan berpengaruh pada gigi tetapnya nanti.

Anak yang sering sakit, pertumbuhan giginya lambat. Begitu pula jika bayi malas mengisap karena gerakan otot mulut sebetulnya merangsang pertumbuhan gigi. Andai gigi anak terlambat muncul sementara usianya mengharuskan dia makan makanan padat, jangan hentikan pemberiannya. Anak bisa mengunyah makanan lembut dengan gusi yang sudah beradaptasi. Malahan, mengunyah makanan semi padat dan padat akan merangsang pertumbuhan gigi anak, dengan catatan memang ada benih giginya. Yang penting, ikuti saja proses alamiah kemampuan pencernaannya seiring pertambahan usia.

Rewel & Demam Saat Gigi Muncul

Macam-macam reaksi bayi saat giginya tumbuh. Ada yang jadi rewel, ngeces melulu, demam, atau biasa saja. Semua tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing anak. Kalau daya tahan tubuhnya kurang atau sensitif, anak bisa demam dan rewel.

Yang terjadi pada saat gigi susu muncul adalah gusinya pecah dan menimbulkan rasa sakit serta tak nyaman. Selama itu, gusi akan tampak sedikit kemerahan. Belum lagi kalau kondisi mulutnya tidak bersih, bisa terinfeksi kuman sehingga demamnya berlanjut atau bertambah. Tapi jika daya tahan tubuhnya baik, kondisi mulutnya bersih, gusinya bagus, aktivitas mengunyahnya bagus, maka anak tak akan mengalami gangguan berarti ketika giginya muncul.

Untuk memperkecil risiko gangguan itu, sudah semestinya orang tua menjaga kebersihan mulut anak. Sehabis menyusui atau makan, bersihkan lidah dan gusinya dengan kain kasa yang dibasahi air matang agar tak ada kuman atau jamur yang tumbuh.

Bila anak demam dan orang tua meragukan penyebabnya adalah gigi yang akan muncul, untuk pastinya bawa ia ke dokter anak. Kalau memang masalahnya karena tumbuh gigi, biasanya dokter akan memberi obat penurun panas saja.

Mainan Gigit-Gigitan Tak Wajib

Bayi yang akan muncul giginya biasanya suka menggaruk atau menyentuh bagian mulutnya. Hal itu disebabkan rasa tak nyaman dan mungkin juga rasa gatal yang timbul. Untuk mengatasinya, bayi senang memasukkan apa saja ke mulutnya. Apalagi kalau diberi mainan khusus untuk digigit-gigit sehingga kegiatan itu merangsang pertumbuhan giginya.

Namun, sejauh mana rangsangan tadi berpengaruh, tidak dapat diprediksi. Jadi, penggunaan mainan tadi tidak wajib. Bagaimanapun juga, pertumbuhan gigi bayi tergantung pada pola tumbuhnya. Ada anak yang memang tidak terlalu aktif memasukkan sesuatu ke mulutnya, tapi karena pola tumbuh giginya normal atau cepat, maka giginya pun akan tumbuh dengan baik.

Perkembangan Bicara Anak

Menurut psikolog Indri Savitri, perkembangan bahasa si kecil dimulai ketika baru lahir. Mulanya ia berkomunikasi lewat tangisan. Usia 1,5 – 3 bulan, ia mulai mengeluarkan bunyi-bunyi seperti, “au…”. Di usia 6-10 bulan mulai babbling dengan mengeluarkan suara berupa gabungan huruf mati dan hidup seperti, “ma…” atau “ba…”. Usia 10-14 bulan mulailah muncul kata, bermakna dan bertujuan. Misalnya, ia akan mengucapkan, “Ma..!” sambil tangannya menunjuk ke suatu objek. Nah, untuk menstimulasi kemampuan bicara ini, orang tua harus rajin mengajaknya bicara, entah sambil bercanda kala menyusui atau di kesempatan lainnya.

Oleh : Dedeh Kurniasih – Nakita

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: