Stimulasi Anak

main-sendiri1
Permainan Anak,Ternyata bukan Main-main Cerdaskan generasi Anda dengan memberi mereka mainan sebanyak-banyaknya, sejak bayi.
Mengikuti perkembangan bayi-bayi di sekitar kita, nampaknya cukup menyenangkan juga. Ada perbedaan mencolok antara
Ryan dengan Ridwan,mulai dari ketika masih bayi hingga di usia mereka kini yang menginjak tiga tahunan. Dua anak bertetangga ini ternyata mengalami masa perkembangan yang jauh berbeda.

Ryan, bayi sulung dari ayah seorang pegawai negeri sementara Ridwan memiliki ayah pedagang. Persamaan di antara keduanya, ibu anak-anak itu sama-sama tidak bekerja, dan mengasuh sendiri bayi-bayi sulung mereka itu.

Ibu Ridwan banyak memberikan putranya alat-alat permainan, sedari bayi hingga kini. Untuk urusan ini, ia dan suaminya sepakat untuk menyisihkan pendapatan bulanan yang sebenarnya tak juga terlalu besar, demi merangsang perkembangan kepribadian Ridwan. Bahkan seringkali sang ibu mencari ide untuk membuat sendiri mainan-mainan tersebut. Berkat
kreativitasnya, nampak sekali perkembangan Ridwan kecil menjadi begitu pesat, dan ia tumbuh menjadi anak yang lincah, pandai bicara dan daya tangkapnya bagus.

Hal ini berbeda dengan kondisi Ryan, yang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kalem dan pendiam. Ia cenderung pasif dan bersikap menunggu.
Gerakannya pun lemah, lambat, serta kurang tertarik kepada hal-hal baru di sekitarnya. Ya, perbedaannya dengan Ridwan adalah karena kedua orang tuanya tidak banyak menyediakan mainan untuknya. Ibu Ryan pernah berkilah,’Sedangkan untuk sandang pangan saja susah, buat apa beli mainan?
Buang-buang uang saja.’

Pembaca dengan mudah tentu dapat menebak, manakah ibu yang bijaksana? Seberapa pentingkah sebenarnya arti permainan bagi perkembangan anak? Benarkah hanya merupakan kemubadziran semata jika orang tua membelikan mainan-mainan yang harganya selangit itu?

Rahasia pada dua tahun pertama
Sementara itu, masih banyak orang berpandangan sempit, yang belum memahami betapa hebat proses pembelajaran yang sedang dilakukan makhluk baru tersebut. Sepintas, bayi memang seperti seonggok daging bernyawa yang belum bisa melakukan apa-apa kecuali menangis, pipis, dan berak. Maka bagi
mereka pemenuhan kebutuhan bayi pun cukup dengan merawat, membersihkan, memberi susu dan makan. Selanjutnya menunggu hingga mereka sedikit bisa mulai berkomunikasi. Akhirnya, tahun-tahun awal kehidupan bayi pun dibiarkan lewat begitu saja, tanpa tindakan aktif orang tua dalam memacu perkembangan bayinya.

Selayaknya ibu bijaksana harus tahu, apa yang terjadi di dalam otak anak selama tahun-tahun awal kehidupannya. Penelitian para ahli menyebutkan,bahwa seorang bayi terlahir dengan me mbawa lebih dari satu miliar saraf dalam otak yang masih terputus-putus. Kelak, saraf-saraf ini akan berkembang saling menyambung, dan kuantitas serta kualitas sambungannya itulah yang menentukan kecerdasan anak.

Dalam penyelidikan selanjutnya terbukti bahwa sambungan saraf-saraf tersebut akan semakin banyak dan bagus jika bayi memperoleh perasaan tenang, tenteram dan bahagia. Belaian tangan ibu memberi kasih sayang kepada bayi memberikan kontribusi begitu banyak terhadap proses pembangunan saraf otak tersebut. Begitu juga kebahagiaan yang diperoleh bayi ketika ibu
mengajaknya tersenyum, tertawa, dan bermain.

Dan salah satu dari kegembiraan maksimal yang mereka peroleh adalah manakala bayi-bayi itu disodori mainan-mainan yang menarik, sesuai kebutuhan mata, telinga, dan rabaan mereka. Maka, jika dengan alat-alat permainan tersebut ibu bisa memberikan kegembiraan sebanyak-banyaknya kepada mereka, sungguh hal itu akan memaksimalkan perkembangan fungsi otak
anak.

Proses penyambungan saraf-saraf ini mencapai 50% pada dua tahun pertama, selanjutnya hanya 30% hingga tahun kelima dan sisanya 20% dipenuhi hingga usia ke-12. Jadi bila kita menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah pada dua tahun awal kehidupan anak, sungguh merugilah kita.

Eksplorasi melalui indra
Permainan, dalam dunia anak memiliki ciri khas yang berkembang sesuai dengan usia. Dengan mengetahui karakter khas pola permainan anak, tentunya akan mempermudah orang tua dalam mengerti, memahami, dan selanjutnya memenuhi kebutuhan putra-putrinya terhadap alat-alat permainan.

Dengan bekal rasa ingin tahunya, setiap bayi akan mempelajari tentang alam lingkungan sekitarnya. Tahap eksplorasi ini berlangsung semenjak lahir hingga usia sekitar dua tahun, dan merupakan tahap awal sebelum mereka nantinya mengembangkan pola permainan yang lain. Dalam tahap ini, anak akan berusaha melihat, mendengar, memegang dan merasakan apa saja
benda-benda yang ada di sekelilingnya. Mereka akan mengambil segala macam benda yang ada dalam jangkauan tangannya. Kemudian selama beberapa detik anak melihat, mengamati, dan memasukkan ke dalam mulutnya. Warna, bentuk serta bunyi yang menarik dari benda yang diamati bayi akan membuatnya
bertahan agak lama dalam eksplorasi ini. Setelah usai dan puas, dibuanglah benda itu untuk mencoba meraih yang lain.

Dengan cara inilah anak belajar segala sesuatu tentang dunia. Ketika mata mereka menangkap benda warna-warni yang digantungkan di depan mereka, mata itu nampak begitu bergairah. Bulat bola matanya menatap lekat mengikuti gerak goyangan benda ke kiri dan ke kanan. Seakan melalui mata itulah ia salurkan seluruh energinya.

Saat inilah seorang anak mulai mengembangkan daya penglihatannya. Mereka yang terbiasa mengamati berbagai ragam warna menarik, akan termotivasi untuk terus melihat, menatap dan mengamati sekelilingnya. Mereka menjadi lebih peka terhadap benda-benda. Mereka menjadi lebih teliti, tidak
mengabaikan hal-hal yang kecil.

Manfaat dari ketajaman daya penglihatan anak mungkin baru akan dirasakan ketika usianya menginjak 3 atau 4 tahun. Minat mereka untuk mengamati segala sesuatu melalui matanya akan mulai nampak, sementara itu semakin banyak obyek benda yang ditangkap mata dan masuk ke dalam otak, yang kecil-kecil sekalipun. Kelebihan ini akan sangat terasa manfaatnya ketika
anak mulai belajar di SD, di mana mereka harus pandai-pandai mengamati hal-hal yang diterangkan dan ditulis guru di papan tulis.

Beberapa anak mengalami masalah dalam kecepatan untuk mampu membaca, karena memiliki daya penglihatan yang kurang baik. Akibatnya mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memasukkan satu obyek penglihatan ke dalam otak.
Konsentrasi mereka dalam melihat dan mengamati sesuatupun masih belum bisa optimal. Dan masih banyak juga anak mengalami masalah dalam pelajaran-pelajaran mereka, karena kurang bisa berkonsentrasi penuh terhadap apa yang mereka lihat.

Ketika tangannya mulai bergerak terarah, maka bergeraklah kedua tangan mungilnya ke arah benda tersebut, berusaha untuk bisa meraihnya. Namun ternyata tak mudah. Rupanya bayi-bayi mungil itu belum bisa mengendalikan tangannya sendiri! Bahkan mengenggam sesuatupun mereka belum bisa!
Keinginan kuat anak untuk meraih mainan-mainan tersebut akan mempercepat proses koordinasi otak dan tangannya, sehingga motorik halus kedua tangannya akan lebih cepat terlatih.

Jika koordinasi otak dan tangan baik, anak akan termotivasi untuk banyak memegang benda-benda di sekitarnya, membuat mereka aktif melakukan apa saja yang bisa mereka kerjakan dengan benda-benda tersebut.

Bagaimana dengan telinganya? Anak-anak mungil itu ternyata akan lebih peka terhadap berbagai jenis suara jika mereka sering bermain dengan bunyi-bunyian. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka mudah Tertarik terhadap berbagai bunyi yang ada di sekelilingnya, dan termotivasi untuk mempelajari benda yang mengeluarkan bunyi tersebut.

Kelak, kepekaan daya pendengaran pun sangat diperlukan anak dalam perkembangan pembelajarannya. Jelas,daya pendengaran anak yang baik akan sangat mempermudah mereka ketika harus berupaya sendiri mencari pengetahuan di bangku sekolah.

Mainan murah meriah
Bagaimana dengan harga mainan bayi yang serba mahal? Ini memang tantangan tersendiri bagi kita. Satu bukti yang sulit dibantah adalah bahwa anak-anak keluarga non-muslim yang dengan mudah mampu membeli fasilitas-fasilitas permainan tersebut ternyata mengalami perkembangan kepribadian yang jauh
lebih baik dari pada anak-anak kita. Secara umum, tak berlebihan jika dikatakan anak-anak mereka lebih cerdas. Lantas, apa yang harus kita upayakan untuk mengejar ketertinggalan ini? Apakah kita boleh diam saja sehingga menjadi lebih jauh tertinggal lagi?

Tentu saja tidak. Kita harus berbuat sesuatu mengantisipasi hambatan yang menghadang. Bukankah tak ada rotan, akarpun jadi? Pepatah ini mengajarkan kita untuk berupaya mencari alternatif lain yang bisa lebih murah pengadaannya. Asalkan kita memahami konsep dan fungsi dasar dari setiap mainan, insya-Allah kita bisa rancang alternatif kreasi yang tak kalah menariknya, hanya dari bahan-bahan sederhana yang sering ada di sekitar kita. Berikut adalah beberapa contoh kreasi mainan buatan sendiri yang berguna untuk balita anda.

Dari sebuah hanger atau gantungan baju (pilih warna yang cerah), Anda bisa menjadikannya sebuah gantungan. Dan carilah tiga buah benda lain dengan besar dan berat berimbang untuk bisa digantung dengan tali di gantungan baju tadi. Benda apa saja bisa dimanfaatkan, apalagi yang memiliki warna-warni cerah dan menarik. Misalnya sisir, botol lem, tempat pata obat nyamuk, hingga boneka-oneka kecil milik anak-anak.

Dari sisa kaleng tempat makanan atau minuman kaleng yang berwarna-warni mencolok, Anda bisa memasukkan dua atau tiga butir kelereng ke dalamnya, kemudian menutup kembali lubang masuk kelereng dengan isolasi kuat-kuat. Jadilah mainan ‘gemerincing’ yang cukup ramai jika digelindingkan.

Sediakan berbagai jenis kain perca berbentuk panjang untuk diikatkan satu dengan yang lainnya menjadi jalinan yang tidak terlalu panjang namun mudah dipegang. Warna-warni kain yang mencolok membuat anak tertarik memegang kain-kain ini. Tangan bayi akan mempelajari tekstur dari setiap jenis perca yang berbeda. Ada yang halus, licin, kasar atau berbulu. Perbedaan jenis tekstur kain yang mengenai telapak tangan mereka akan melatih indra peraba tersebut untuk menjadi semakin peka.

Jika ada benda-benda dapur yang tidak berbahaya, bisa anda padukan dengan sendok sehingga menjadi alat musik dengan cara memukul-mukulkan sendok ke benda tadi, semisal piring, mangkok, gelas melamin atau plastik. Beragam suara yang ditimbulkannya akan menggggembirakan bayi, apalagi jika mereka
diberi kesempatan untuk memukul-mukulkan sendiri sendok tersebut dengan tangannya.

Masih ada seribu satu macam ide merancang permainan bayi dengan menggunakan barang-barang yang tersedia di sekitar kita. Prinsipnya, alat-alat pemainan tersebut memenuhi fungsi untuk merangsang ketajaman indra penglihatan, pendengaran, hingga perabaan bayi. Pilih selalu barang-barang
dengan warna mencolok, mudah dipegang, dan aman jika masuk ke mulut bayi.

(dari Suara Hidayahtullah)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: