WASPADAI KANKER PAYUDARA

Soalnya, tiap wanita memiliki gen yang bisa menghadirkan penyakit ini.
Pencegahan penting dilakukan dengan menghindari stimulan/perangsang
gen menjadi kanker dan rutin memeriksa payudara.
Bagi wanita, payudara merupakan bagian tubuh yang amat vital. Bukan
hanya wanita jadi sedikit berkurang "keindahannya" tanpa payudara,
tapi lebih dari itu, payudara merupakan "pabrik" sekaligus "gudang"
makanan yang terbaik bagi tumbuh kembang bayi, yaitu ASI.
 
Itulah mengapa, bila ada sesuatu "kelainan" yang terjadi pada
payudara, wanita langsung panik. Sekecil apapun "kelainan" tersebut
sudah mampu membuat wanita tak enak makan dan tak nyenyak tidur.
Terlebih bila "kelainan" itu berupa benjolan, yang langsung terbersit
di benak, "Jangan-jangan... kanker?" Bukankah demikian gejala kanker
payudara?
 
Aduh, amit-amit, deh!
 
PENYEBAB BELUM DIKETAHUI PASTI
 
Ya, kita (wanita) memang sama sekali tak menginginkan penyakit yang
menyeramkan itu. Mendengarnya saja sudah membikin seluruh bulu kuduk
terbangun dari tidurnya. Tapi seseram dan sengeri apapun penyakit
kanker payudara, kita tetap tak boleh membutakan mata dan menulikan
telinga terhadap segala informasi yang berkaitan dengan penyakit ini.
Pasalnya, dari data yang ada diketahui, kanker payudara merupakan
salah satu dari dua penyakit terbesar yang kerap dialami wanita.
Kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim.
 
Sayang, penyebab kanker payudara tak pernah diketahui secara pasti.
Namun yang jelas, seperti dituturkan dr. Wim Panggarbesi, Sp.B-Onk.
dari RSUP Persahabatan, Jakarta, tiap wanita memiliki gen yang bisa
mempengaruhi atau membawa penyakit ini. "Kalau gen itu terangsang,
maka bisa bermutasi dan menyimpang, jadilah kanker," jelasnya pada
acara Ibu Bayi & Balita, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana
Film yang ditayangkan ANTeve.
 
Adapun stimulan atau perangsang gen tersebut hingga jadi kanker bisa
berbagai sebab. "Bisa karena udara, yaitu asap rokok, tapi bisa juga
karena makanan, terutama yang mengandung hormon estrogen seperti
daging impor yang digemukkan dengan suntikan estrogen, berlemak
tinggi, diawetkan dalam kaleng, dan mengandung pewarna." Soalnya,
sebagian dari zat pengawet maupun pewarna akan dikeluarkan lewat
kelenjar di payudara. Kelenjar payudara itu, kan, sama saja dengan
keringat. Selain itu, baik asap rokok maupun bahan-bahan makanan yang
disebutkan di atas akan menghasilkan radikal bebas, yang bisa memicu
gen pembawa kanker menjadi bermutasi dan terlepas dari kontrol
kebiasaan normalnya. Akhirnya, gen yang bermutasi tersebut menjadi sel
kanker.
 
HAID PERTAMA
 
Mengenai gejalanya, seperti telah disinggung di atas, biasanya teraba
ada benjolan atau tumor. "Memang tak mesti setiap benjolan adalah
tumor. Bisa jadi itu merupakan pembesaran hormon," bilang Wim. Untuk
mengetahuinya secara pasti, tentulah harus melalui pemeriksaan. Itu
sebabnya Wim menganjurkan, apapun benjolan tersebut, sebaiknya
diperiksakan.
 
Pada saat pemeriksaan, biasanya pasien akan ditanya apakah sudah
menikah atau belum, punya anak atau tidak, berapa usia waktu haid
pertama, dan kapan mendapat haid teratur sejak haid pertama. Nah, dari
situ akan terlihat ada-tidak faktor kuat untuk risiko kanker. Bila
memang mempunyai faktor risiko, maka pemeriksaannya semakin teliti.
 
Lebih jauh dijelaskan Wim, bila haid pertama pada usia 12 tahun,
berarti yang bersangkutan mempunyai risiko tinggi untuk dapat kanker.
Selain itu, "makin cepat mendapat haid teratur setelah haid pertama
muncul, risikonya juga tinggi." Soalnya, pemaparan hormon haidnya jadi
lebih lama. Inilah yang mempunyai risiko. "Tapi bila baru dapat haid
setahun atau dua tahun, kemudian mendapat haid teratur, berarti
pemaparan hormon haidnya lebih pendek." Namun kendalanya, orang sering
tak mencatat kapan ia mendapat haid pertama dan berapa bulan
sesudahnya ia mendapat haid teratur sejak haid pertamanya.
 
Selanjutnya, perhatikan apakah haidnya teratur atau tidak. Makin
haidnya tidak teratur, semakin besar kemungkinannya kalau benjolan itu
bukan tumor tapi hanyalah suatu penyakit hormonal. "Sementara kalau
benjolan berupa tumor biasanya tak terasa sakit, kenyal dan solid
seperti baso. Bisa juga padat memanjang seperti kayu." Bila
benjolannya sudah ganas, inilah yang disebut kanker. Nah, kalau
benjolannya dicurigai sebagai kanker, harus segera mammografi dan
dibiopsi pakai jarum untuk melihat apakah tumor atau bukan.
 
PENANGGULANGAN KANKER
 
Untuk menanggulangi penyakit kanker payudara, Wim menyebutkan 3 hal,
yaitu pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan.
 
* Pencegahan
 
Terdiri dari primer dan sekunder. Pencegahan primer dilakukan dengan
cara menghindari mengkonsumsi makanan yang berpotensi sebagai
perangsang gen menjadi kanker, seperti makanan berlemak tinggi,
mengandung estrogen, serta berpengawet dan pewarna. Selanjutnya
dilakukan pencegahan sekunder dengan cara skrining 6 bulan sekali
untuk cek mammografi dan setahun sekali cek keseluruhan, yaitu
melakukan pemeriksaan untuk menemukan tanda-tanda dini pada kelompok
tanpa keluhan (sympton).
 
Pemeriksaan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan menggunakan alat bantu. "Pemeriksaan fisik bisa
dilakukan dengan cara memeriksa payudara oleh wanita itu sendiri, yang
dikenal dengan istilah sadari atau sarari." Dari pemeriksaan tersebut,
harus diwaspadai bila ditemukan benjolan di payudara, perubahan di
puting susu, keluar cairan merah dari puting susu, teraba benjolan di
ketiak, ada bagian kulit yang tertarik ke dalam, atau ada bagian yang
tertinggal sewaktu mengangkat lengan ke atas.
 
Sebaiknya sadari/sarari dilakukan secara rutin sebulan sekali. Toh,
pemeriksaan ini paling banyak menghabiskan waktu sekitar 10 menit.
"Dengan sadari yang rutin, diharapkan kelainan ditemukan oleh yang
bersangkutan." Segera pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut
bila timbul kelainan. Jadi, kita enggak boleh malas untuk melakukan
sadari/sarari, ya, Bu.
 
Sedangkan pemeriksaan dengan alat bantu, diantaranya mammografi
(pemeriksaan radiologi khusus dengan membuat foto jaringan lunak), USG
(lebih berperan pada payudara yang padat), SPECT atau Single Photon
Emission Computed Tomography (dapat mendeteksi perubahan-perubahan
dalam tubuh yang lebih kecil yang tak terdeteksi oleh pemeriksaan
mammografi dan USG). Cara ini bisa melihat perubahan-perubahan pada
sejumlah reseptor estrogen di payudara. Payudara yang sakit kanker
akan mempunyai reseptor estrogen yang lebih banyak.
 
* Deteksi Dini
 
Untuk saat ini deteksi dini kanker payudara yang terbaik hasilnya
adalah dengan mammografi. Sebaiknya mammografi dilakukan setahun
sekali untuk wanita berumur lebih dari 50 tahun; pemeriksaan pertama
dilakukan pada usia 35-40 tahun; pada wanita dengan riwayat keluarga
kanker payudara dilakukan pemeriksaan dasar pada usia 30 tahun; dan
pada usia 40-50 tahun pemeriksaan dilakukan berkala setiap 1-3 tahun.
 
Dengan diketahuinya kanker payudara stadium dini, memungkinkan
penderita mendapatkan pilihan pengobatan. Misal, bila ingin tetap
mempertahankan payudaranya. Disamping, angka keberhasilan pengobatan
juga tinggi dan angka kematian akan menurun.
 
* Pengobatan
 
Bila kankernya masih berupa stadium 1-3 awal, pengobatan bisa
dilakukan dengan cara mengoperasi payudara tersebut. Tapi kalau
kankernya sudah stadium di atas 3, pengobatan dengan cara bedah tak
bisa dilakukan. Harus dicari alternatif pengobatan lain, misal, dengan
radioterapi, kemoterapi, hormonterapi, dan sebagainya. Soalnya, kanker
merupakan penyakit sistematik. Sel kanker punya kemampuan menyebar ke
mana-mana. Walaupun telah dioperasi dan sembuh, bukan berarti tak ada
kemungkinan kambuh, sehingga pengobatan pun dilakukan dengan berbagai
cara. Operasi dan radioterapi untuk penyembuhan lokal, sementara
kemoterapi dan hormonterapi atau obat-obat anti kanker untuk
sistemiknya.
 
Selain itu, terapi secara psikologis juga penting dilakukan karena
sikap mental pasien juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran sel
kanker. Kalau penderitanya sudah putus asa duluan, maka segala
penyakit bisa kambuh dengan cepat. Progresivitas penyakit itu, kan,
akan cepat meningkat pada pasien yang mentalnya down duluan.
 
Operasi pengangkatan kanker juga bisa dilakukan tanpa mengangkat
payudara seluruhnya, tergantung letak tumornya. Kalau lokasinya di
bagian atas luar yang berada dekat ketiak, maka bisa diangkat bagian
itu saja, baru nanti diradiasi. Bentuk payudaranya tetap ada, hanya
mungkin jadi kecil. Tapi kalau letak tumornya di daerah sentral,
medial bawah, lateral bawah, maka harus diangkat seluruhnya karena
arah penyebaran sel kanker ke atas. Jadi, kalau letaknya di medial
bawah, maka ada kemungkinan menyebar ke atasnya, sehingga harus
diambil keseluruhan payudara itu.
 
Pengobatan tuntas bisa memakan waktu setahun. Setelah pengobatan
tuntas, selanjutnya seumur hidup tetap harus dipantau, yaitu tiap 6
bulan sekali. Paru dan dan livernya juga diperiksa karena
dikhawatirkan sistemiknya tumbuh lagi di situ. Soalnya, mereka yang
pernah terkena kanker payudara, walaupun sudah sembuh, namun tetap
mempunyai risiko 12 kali akan kena lagi.
 
REHABILITASI
 
Setelah pengangkatan payudara, bukan berarti penderita tak bisa
membuat payudara baru, lho. "Rekonstruksi payudara bisa saja dibuat
kalau memang penderita merasa perlu melakukannya," kata Wim. Biasanya
diambil dari lemak yang ada di perut atau bawah leher.
 
Sebaiknya, pembuatan payudara baru dilakukan setelah setahun operasi
karena kekambuhan bisa bersifat lokal namun bisa juga menyebar atau
tumbuh di tempat baru. Itulah mengapa, setelah operasi tetap harus
kontrol, minimal 6 bulan sekali. Nah, diasumsikan, kalau setelah
setahun tak kambuh lagi, maka bisa dibuatkan payudara baru.
 
Namun rehabilitasi fisik yang paling penting dilakukan adalah melatih
otot lengan yang kaku sehabis operasi payudara. "Kalau tak sering
latihan, otot-otot lengannya akan kaku." Selain itu, lakukan sadari
sesering mungkin dan diet makanan nonlemak.
 
"Memang lemak tetap dibutuhkan tubuh, tapi jangan dikonsumsi
berlebihan. Maksimal tak lebih dari 20 persen makanan kita."
 
Jika payudara sudah sembuh dan terkontrol, lalu yang bersangkutan
ingin punya anak dan menyusuinya, dianjurkan 2 tahun setelah
pengobatan tuntas baru melakukan program hamil. Persoalannya, kalau
hamil, maka estrogen akan meningkat. Takutnya, perkembangan sel
kankernya akan jauh lebih galak. Jadi, 2 tahun setelah bebas
pengobatan baru boleh hamil dan punya anak, serta menyusui.
 
Bila dulu kanker payudara hanya dialami ibu-ibu usia di atas 40 tahun,
maka kini telah beralih. Dari hasil penelitian, terang dr. Wim, kini
yang terbanyak berisiko terkena kanker payudara adalah wanita usia di
bawah 40 tahun. Selain itu, yang juga mempunyai risiko tinggi adalah:
 
* punya riwayat keluarga penderita kanker payudara,
 
* umur di atas 40 tahun yang tak mempunyai anak,
 
* mempunyai anak pertama setelah berusia 40 tahun ke atas,
 
* tak menikah,
 
* haid pertamanya terlalu dini (12 tahun),
 
* menopausenya lambat,
 
* masa menyusui yang singkat, dan
 
* mengkonsumsi makanan berlemak.
 
YANG BERISIKO TERKENA KANKER PAYUDARA
 
Bila dulu kanker payudara hanya dialami ibu-ibu usia di atas 40 tahun,
maka kini telah beralih. Dari hasil penelitian, terang dr. Wim, kini
yang terbanyak berisiko terkena kanker payudara adalah wanita usia di
bawah 40 tahun. Selain itu, yang juga mempunyai risiko tinggi adalah:
 
* punya riwayat keluarga penderita kanker payudara,
 
* umur di atas 40 tahun yang tak mempunyai anak,
 
* mempunyai anak pertama setelah berusia 40 tahun ke atas,
 
* tak menikah,
 
* haid pertamanya terlalu dini (12 tahun),
 
* menopausenya lambat,
 
* masa menyusui yang singkat, dan
 
* mengkonsumsi makanan berlemak.
 
Indah Mulatsih
 
 
JAKARTA BREAST CENTER: MELAYANI KONSULTASI HINGGA REHABILITASI PAYUDARA
 
Sudahkah Anda merawat payudara dengan saksama? Sebab ternyata, sedikit
saja wanita yang benar-benar memberi perhatian besar terhadap bagian
tubuh ini.
 
Masih ingat, kan, Pamela Anderson, pemain serial Bay Watch yang
identik dengan dada aduhai? Ibu dua anak ini rela mengeluarkan ribuan
dolar untuk mengasuransikan payudaranya. Tentu saja, kisah Pamela
hanya sekadar ilustrasi bagaimana pentingnya payudara bagi seorang
wanita. Bukan saja sebagai sebuah daya tarik seksual, sebab payudara
juga terkait dengan sistem reproduksi wanita dewasa.
 
Di sini, kebutuhan akan pentingnya menjaga kesehatan payudara seperti
terjawab dengan berdirinya Jakarta Breast Center (JBC) sejak April
2001. Klinik ini didirikan oleh tiga orang dokter yang menekuni bidang
onkologi, yaitu, Dr. Evert D.C. Poetiray, Sp.B. Onk yang sekarang
menjabat Kepala Instalasi Bedah Pusat RSCM, DR. Dr. Soehartati
Gondhowiardjo, Sp.Rad. Onk, Kepala Subbagian Instalasi Radioterapi
RSCM-FKUI dan Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM Kepala Subbagian
Hermatologi dan Onkologi Medik RSCM-FKUI.
 
"Kami menyediakan konsultasi pencegahan, deteksi dini dan diagnosa,
serta penanganan dan rehabilitasi kanker payudara," ujar DR. Dr.
Soehartati Gondhowiardjo, Sp.Rad. Onk. "Deteksi dini kanker payudara
yang kami lakukan meliputi konsultasi, breast imaging, dan fine needle
aspiration biopsy. Untuk penanganan kami melakukan operasi,
kemoterapi, rawat inap 1-3 hari, selain itu juga ada laboratorium
untuk pemeriksaan darah dan patologi anatomi."
 
KOMPREHENSIF DAN INTENSIF
 
Lebih lanjut dokter yang akrab disapa Tati ini menjelaskan, JBC juga
menjanjikan sebuah pelayanan prima secara komprehensif dan efektif
pada setiap keluhan dan kelainan payudara. "Pasien yang akan
berkonsultasi tidak harus wanita yang mempunyai keluhan dengan
payudaranya, tapi wanita yang hanya ingin mengecek atau sekadar
memastikan bahwa payudaranya sehat pun bisa."
 
Sampai saat ini JBC mempunyai 8 orang tenaga ahli, di antaranya Dr.
Evert DC Poetiray, Sp.B Onk (Direktur JBC) menangani bedah onkologi,
Dr. H. Zubairi Djoerban, Sp.PD. KHOM menangani ongkologi medik, DR.
Dr. Soehartati Gondhowiardjo, Sp.Rad. Onk menangani radiologi dan
onkologi radiasi, Dr. Suharyuni, Sp.RM menangani rehabilitasi medik,
Dr. Teddy, Sp.B menangani bedah plastik, DR. Dr. Nurjati C. Siregar,
Sp.PA menangani patologi anatomi, dan seorang psikiater Dr. Maria
Poluan, Sp.KJ.
 
Pasien yang ingin berkonsultasi sebaiknya membuat janji melalui
telepon lebih dulu. "Dengan begitu pasien akan lebih nyaman kalau
namanya sudah terdaftar, sehingga tidak perlu terlalu lama mengantre."
 
Biaya yang harus dikeluarkan bervariasi, tapi setidaknya relatif lebih
murah dibanding rumah sakit terkemuka lainnya di Jakarta. "Apalagi
dengan lokasi yang cukup strategis, yaitu di daerah Menteng-Jakarta,
diharapkan akan memudahkan masyarakat yang memerlukan pemeriksaan
terhadap payudara dan tempat pemeriksaannya pun nyaman."
 
Disamping menerima pembayaran tunai, JBC juga menerima pembayaran
dengan beberapa jenis kartu kredit utama, "Jadi jangan khawatir kalau
misalnya tidak membawa uang tunai."
 
ANIMO MASYARAKAT
 
Animo masyarakat terhadap JBC menurut Tati cukup tinggi, "Dari data
yang kami miliki, tiap bulan pasien yang datang ke sini sekitar enam
ratusan, bahkan pernah sampai delapan ratus sekian dengan bermacam
keluhannya."
 
"Untuk pasien dengan diagnosis kanker payudara pada tahun 2001 sekitar
1770 pasien, tahun 2002 sekitar 1338 pasien, tahun 2003 sampai dengan
bulan April sekitar 529 pasien. Jadi sampai April 2003 sudah ada 3637
pasien dengan diagnosa kanker payudara yang ditangani atau sekitar
10,12% dari seluruh pasien yang datang ke JBC," tambahnya, "dan untuk
kemoterapi, pasien yang pernah ditangani di JBC sampai April 2003 ada
sekitar 378 orang."
 
Memang, belum semua wanita betul-betul peduli pada kesehatan
payudaranya. Melihat biaya yang dibutuhkan, mau tidak mau, lebih
banyak wanita dari kelompok menengah ke atas yang datang ke JBC untuk
memeriksakan kesehatan payudaranya. Nah, bagaimana dengan Anda?
 
Jakarta Breast Center
Jl. DR. GSSY Ratulangie No 8
Menteng- Jakarta
Telp. (021) 391 2527-3190 1041
Fax. (021) 3190 1041
Buka tiap hari Senin Sabtu
jam 10.00 23.00 (dengan perjanjian)
 
Marfuah Panji Astuti.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: